Diantara gerimis, ingatanku berputar, kisah-kisah yang pernah mampu menghadirkan tawa, senyuman yang lepas, bahkan tangis pilu.
Kusandarkan diri pada segaris pohon, tepi danau yang tenang. Kadang kala kenangan akan ternampak sangat nyata, seperti saat ini.
Kutolehkan pandanganku pada tiga titik yang semakin mendekat, semakin mampu tergambar, dua laki dan satu gadis SMP. Bercanda-canda, mengantar pada waktu yang sama, masa putih biru yang lugu.
Ada satu yang paling indah saat itu, waktu mengendap-endap, mencuri kesempatan, hanya untuk mengagumi sosok tampan, mata yang syahdu, senyum yang menawan, bagai terbang melayang menembus cakrawala. Dan saat kembalipun aku menemukan diriku yang masih terkagum-kagum. Aku menyebutnya “cinta”. Tapi wajahku tertekuk saat orang dewasa itu menambahkan “monyet” di akhir kata. ‘cinta monyet’? hufft…. Ya sudahlah, terserah, yang penting aku damai walau hanya diteduhkan oleh wajahnya yang rupawan.
(waktu terasa singkat berjalan)
Ada ketakutan yang hadir, saat aku menyaksikan kakak kelas bertempur dengan kata “lulus” dan “tidak lulus”. Pandanganku terarah pada sosok yang kukagumi. Kertas yang diacungkannya membuat mataku memicing mencari tahu, tapi mungkin tak perlu, “hore!!!!” yang diucapkannya, merampas waktu, sesaat aku terpaku, mungkinkah ini perpisahan, belum sempat perasaan ini terungkap, air mata begitu mudah menetes.
Rumahnya tidak jauh dengan rumahku, setiap waktu, selalu bisa aku memperhatikannya, tapi sekarang tidak. Kucoba bertanya pada seorang yang menghuni rumahnya saati ini, katanya, Yuda sudah seminggu meninggalkan desa ini melanjutkan sekolah di kota. Aku sedih, bahkan untuk mengucap terima kasih pada si penghuni aku luput.
Kembali, namun bukan jalan setapak kembali ke rumah, aku berjalan mendekati sungai jernih, berharap aliran deburan air sungai itu dapat menghibur.
Tiga ratus enam puluh lima hari lebih kurang berlalu, kini aku berpakaian putih abu. Kesenangan ini sesaat mampu mengapus kenanganku saat bisa mengagumi Yuda.
Inilah hari pertama masa orientasi siswa di SMA ku. Semuanya terasa biasa, tapi berbeda saat ruanganku kedatangan lelaki yang memperkenalkan diri sebagai sekretaris panitia MOS, terang saja, wajahnya familiar bagiku. Selain itu ia pun sangat manis.
Matanya yang bersinar, sekarang tertuju pada diriku, entah karena aku terlalu besar kepala, tapi sepertinya aku tidak salah, semakin aku bisa menatap jelas mata indahnya. Dia hanya berdiri di hadapku, lama, lalu berlalu. Apa yang terjadi? Mengapa jantungku berdebar sangat kencang?
Malam yang dingin, tubuhku terlentang, menatap kosong langit-langit kamar, wajah kakak satgas, Dimas namanya, terlukis indah di remang-remang cahaya kamar ini, degup jantungku kembali seperti saat tadi pagi. Perasaan ini sama seperti setahun yang lalu hanya saja ini perasaan pada orang yang berbeda. Mungkinkah ini waktunya aku melepas kenangan bersama Yuda. Ya..!! ini betul saatnya.
Setiap hari aku selalu mengumpulkan semua tentang Dimas, sangat sempurna dirinya di mataku, tidak salah dia termasuk cowok popular di seantero sekolah. Pintar, dan aktif di organisasi. Orang-orang membisikkan kata “playboy” tentang Dimas. Ada sedikit kecewa, tapi kutak peduli, cinta butakah? Aku tak tahu. Dimas lah seseorang yang menjadi sumber inspirasi di tiap langkahku, di setiap semangat berangkat sekolah.
Ke kantin, rapat organisasi, bertemu guru, mengobrol, selalu bersama Dimas, bahkan untuk curhat pun Dimas memilihku. Di setiap penggal kisahnya dia seolah ingin berkata bahwa ia butuh cinta sejati. Wanita-wanita yang ia jadikan pacar selama ini tidak bertahan lama bahkan hanya sampai beberapa jam saja.
Akhir minggu yang seru, rencana yang disusun teman-temanku akhirnya bisa terwujud minggu ini, rekreasi di pantai. Ternyata Dimas pun diundang teman-teman.
Ini yang paling aku sukai, buih ombak, pasir putih, angin laut yang menerpa bahkan beban-beban sekolahpun ikut terbang jauh. Tidak terasa tanganku terangkat , memejamkan mata, merasakan suasan indah ini.
Ada yang menyentuh pundakku, aku berpaling ternyata Dimas. Detak jantungku berlomba dengan debur ombak. Dimas mulai mengucapkan kata, “kata cinta”. Sepintas, aku langsung ingin menjawab “iya”. Tapi terbesit di ingatanku tentang puluhan wanita yang pernah menjadi kekasih Dimas akankah nasibku sama seperti wanita-wanita itu? Dimas berkata dengan tegas “TIDAK! Kau wanita berbeda yang pernah kutemui, jika sebelumnya aku memilih karena parasnya yang indah, namun tidak pada dirimu, keindahan itu terpancar dalam hatimu yang tulus”. Begitulah kalimat yang mampu meluluh lantakkan hati ini. Aku beranikan diri menerima karena akupun tak bisa mendustai perasaan ini.
Perasaan aku dan Dimas, kita rajut bersama dengan benang kasih sayang, hingga hari-hari yang berlalu mampu kita rangkai menjadi sebentuk cinta yang entah sampai kapan akan menjadi indah dan akhir nya berubah kelam, menyulapnya menjadi sebuah kenangan nantinya. Seperti dua minggu setelahnya, Dimas memutuskan ikatan cinta, alasannya tidak bisa diterima otakku, “Vira terlalu baik buat kakak”. Berusaha untuk tidak meneteskan air mata, karena meskipun singkat, aku bisa membaca sifatnya. Mungkin ia terdorong rasa bosan yang selalu melekat di dirinya, susah untuk dihilangkan, aku mengerti, yakin saja, bahwa perasaan ini takkan mudah pudar meski aku tak tahu, apakah kau memiliki rasa sebesar rasa ini juga.
Dia dan aku masih terkait jalinan pertemanan, hingga beberapa bulan, aku mengetahui sahabatku Zaskia, kini menjalin cinta bersama Dimas. Pupus sudah harapan yang selama ini masih kupegang, jika memang Dimas mau kembali padaku.
Aku kehilangan kendali, perasaan ini sangat sakit, walaupun hanya mantan kekasih, tapi mengapa terasa sangat pilu? Hari-hariku terisi dengan air mata. Menyendiri, memandang kosong di ujung titian. Zaskia sangat mengetahui kegilaanku pada Dimas, sangat mendukung hubungan itu. Tapi bisakah aku menerima kenyataan pahit ini?
Kini aku hanya bisa menyerahkan pada waktu, biar waktu yang menjawab. Sejak saat itu aku tak ingin mengenal cinta lagi, menjauhi yang namanya cinta gila. Semua GILA..!!
Aku mulai serius dengan sekolah, mencoba merebut kembali ranking pertama yang dulu selalu bisa membuatku bangga. Saat aku terhanyut dalam dunia maya, kubuka jejaring social (facebook) sebagai selingan saat belajar. Dapatlah aku kenalan, namanya Kira. Sejak saat itu, pertemanan terjalin via SMS pula. Namun belum pernah langsung bertatap muka.
Aku tak tahu, mengapa aku nyaman bila bercakap-cakap dengan kak Kira lewat SMS, mungkin karena kedekatan kami, seperti saudara, melengkapi kerinduanku akan sosok seorang kakak laki-laki. Hingga tak terasa sudah setahun. Cukup banyak yang aku ketahui tantangnya, aneh juga, selama ini aku masih belum pernah mendengar suaranya..
Tiba saat nya kak Kira lulus, itu artinya akan semakin jauh, (mengapa perasaan kehilangan ini ada?). Dia kakak yang sangat baik buatku, akankah pertemanan kita terputus nantinya?
Sekarang bulan November , ternyata kak Kira masih menjadi sosok maya bagiku. Sempat aku berharap kado terindah di ulang tahunku yakni bisa mendengar suara nya. Bisakah ia di seberang sana mendengar pintaku?
Di pagi hari tanggal 26 November, senyum bahagiaku terpancar, bagaimana tidak, orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku, yaitu kak Kira. Betapa senangnya aku, pukul 00.02 pesannya masuk. “ttiiitt” pesan ke dua? Siapakah gerangan? Zaskia? Oh Tuhan, terima kasih atas anugerahmu, aku sama sekali tak menyangka Zaskia akan mengucapkannya secepat ini, itu berarti ia masih mengingatku, semoga ini awal yang baik untuk memperbaiki semua kesalahan yang lampau.
Malam ini pesta ulang tahunku, ternyata belum pudar juga senyum bahagia ini, tawa dan meriahnya mala mini, menjadi satu keistimewaan di ultah sweetseventeen ini. Indahnya malam bersama semua teman-teman, diterangi cahaya temaram sang rembulan.
Pukul 21.30, kawan satu persatu menjabat tanganku sembari mengucap “selamat ulang tahun” ada pula yang menyisipkan kado, yang padahal tidak begitu penting dibandingkan kehadiran mereka disini. Kini dengan wajah puas, aku kumpulkan piring-piring kotor. “Andai saja kak Kira ada disini, pasti sangat bahagianya diriku”, ujarku dalam hati. “ttiiit.. tiiit..” suara pesan di handphoneku. Pesan dari kak Kira. (senang).
Seperti biasa bercakap-cakap dengannya, sudah seperti rutinitas buatku. Tak terasa, tinggal beberapa menit lagi tepat pukul 10 malam. “boleh kakak ajukan dua pertanyaan?” begitu bunyi pesannya. “Vira sudah punya pacar?”. DEG..!! ada firasat aneh, perasaan ku tak menentu. Kemudian kak Kira mengajukan pertanyaan selanjutnya setelah mendapat jawaban aku masih sendiri. “mau tidak Vira jadi pacar kaka?”
Terima kasih banyak Tuhan, rahmat yang tiada hentinya sudi Kau berikan buat hamba. Jawabanku saat itu buat kak Kira hanya satu, yaitu “iya” karena aku memang sangat menyayanginya. Saat itu aku menjawab dengan harapan dialah yang sejati. Semoga saja.
Hari-hari yang indah kita lalui, masih dalam komunikasi maya. Namun itu bukan hambatan untuk aku tetap setia menantinya. Sangat mencintainya. Ujian itu datang, ujian kesetian buatku, aku pikir. Dimas yang dulu pernah menjadi sosok teristimewa buatku, datang kembali membawa Cinta yang aku tunggu dahulu, tapi mengapa di waktu yang tidak tepat? Percuma saja, aku kini berada dalam ikatan kasih sayang, yang tak mungin semudah itu untuk aku lepaskan, mungkin jalan terbaik yaitu tetap menjalin persahabata yang akrab saja. Maaf Dimas.
Aku terenyak dalam pelukan sebatang pohon besar di tepi Danau, aku betah disini, tempat yang indah. “vira.. “, panggil suara yang sangat akrab ditelinga, suara yang pertama kali ku dengar saat bertemu untuk yang pertama kalinya, pertemuan yang indah. Disana kak Kira, dengan senyumannya yang khas, tampan sekali. Aku begitu mencintainya.
Berdua kita menikmati indahnya danau ini, 14 Februari hari ini, kak Kira mengisi liburan semesternya dengan kembali ke sini, di kampung halamannya, tempat aku berada saat ini. Terlihat burung-burung mulai kembali ke sarangnya, seolah mengisyaratkan kami untuk segera kembali ke rumah masing-masing karena petang akan segera tergantikan malam.
Sesaat aku menghela nafas panjang, bertekad untuk mengubur kenangan dahulu dengan danau ini saksinya. Biarlah menjadi kenangan hingga saat kukembali ke tempat ini lagi. Mungkin pula takkan kembali. Aku sudah menemukan tempat yang sangat indah adalah tepat di hati kak Kira. J

waaahhh keren bgt nih...kamu yg bikin'y ya?
BalasHapusapa yuda sama kira orang yg sama?
hehe..
BalasHapusmakasi banyak.. :)
iya.. saya sendiri yang nulis..
yuda dan kira itu.. orang yang berbeda..
Exellent..! Tapi, Nov..Coba kamu bikin satu cerita yang temanya bukan cuma kisah cinta dua remaja, misalnya tentang perjuangan hidup seorang pemulung atau anak desa yang tidak mau putus sekolah dll..Tapi ada yang lebih tapi lagi: Website DP-nya udah jadi , belon?
BalasHapus